aah.still sleepy this morning but let's us write down the stories wether it's too late to be told. :p
it's okay.
masih pada inget kan sama hashtag #absurdday yang gw buat semalem di twitter? hehe. bukan sih, bukan mau cerita tentang absurd day hari itu, tapi lebih ke pengalaman baru dan ilmu baru yang didapet di akhir hari itu.
seperti biasanya, gue ngga akan pergi ke sebuah tempat tanpa membawa 'sesuatu', tepatnya sih cerita atau ilmu. mau itu dibagi ke orang lain, atau kadang cuma gw simpen aja sendirian karena alasan tertentu.
hari itu gue disms Zita buat nemenin dia dateng ke sebuah diskusi. tadinya gue juga bingung, ini acara apa, kayak gimana, dimana, siapa aja yang dateng dan blablabla lainnya.
apalagi gue orang asing dan acaranya malem pula.
tapi berhubung udah kemaleman dan sekalian mau nginep di kosan dia, trus diyakinin zita juga kalo acaranya santai aja. yaudah, kenapa engga.
sempet bingung dimana tempatnya karena gue buta daerah Fatmawati, belum lagi zita cerita kalo gedung yang bakalan kita datengin ini rada-rada spooky. hayo loh. jiper juga sih jam 9 malem kesana.
sampe di tempat tujuan, agak ngga enak karena katanya acaranya jam setengah 9 tapi kita telat dateng baru sampe jam 9.
oke. pertama kali liat gedungnya. yak, positif terlihat sangat spooky hehe.
anyway gedung ini bekas sebuah studio musik (atau masih?) entahlah. gedung Rossi Musik, Lt.4 Jl. R.S. Fatmawati No.30.
keliatan banget gedungnya sudah lama ngga ditempatin, tampak depannya tanpa jendela, flat, bersih tanpa sedikitpun ventilasi udara.
ya emang pada dasarnya ini studio musik tadinya barangkali, jadi ya harus semaksimal mungkin bisa meredam suara.
penilaian tentang gedungnya..
hm. yak, kerasa agak ngga enak pas masuk. sepi, redup, kotor ciri khas gedung lama.
I don't know dibelakangnya itu memang parkiran atau sekedar gudang mobil tapi disitu banyak mobil dengan beberapa orang yang ngga kita kenal.
lantai 2 gelap gulita dan ngga usah ditanya deh, ngga suka hawanya.
gue ngga mau banyak liat sana-sini, mending cepetan naik deh.
lantai 3 lumayan ada lampu, baru di lantai 4 lebih terang dan ada suara dari speaker trus ada banyak orang.
fiuh.
alhamdulillah.
setelah registrasi dan dapet souvenir berupa stiker kayak gini :
pas masuk, kerennya di dalem suasananya enak. lebih hangat, dan ngga ada aura spooky atau negatifnya sama sekali. beda banget sama di luar. hiiy.
ruangannya cukup luas, dan ada banyak poster - poster minimalis yang cuma berisi kata-kata motivasi atau apa ya istilahnya. entahlah. diatas selembar kertas A3, dengan tinta cina hitam.
contohnya :
"majority hardly changes the world, minority does"
"music should not depend on industry"
"arts will gain it's true value when it's build upon context"
"ethics is the order"
etc.
duduk santai di karpet sederhana, bisa sambil ngemil, ngopi, ngeteh, ngerokok atau apapun semuanya dengan sangat baik udah tersedia di meja belakang.hehe.
dan technically ketemu & berkenalan dengan dosen zita, Mas Adi Kara yang sangat ramah dan punya banyak pemikiran yang berpengaruh di diskusi ini, kak Aryo yang berperan sebagai moderator acara ini, musisi yang keren banget kolaborasinya, keyboard jamming sama Guzheng (kecapi cina) mbak Eni Agustien & biola kak Reza Malik di akhir acara.
salute!
dan oh ya, acara ini adalah acara listentotheworld.net yang profilnya bisa diliat di facebook mereka disini dan akan ada lebih banyak info di website mereka. Just kindly check it out later ya..
16th Session of Offline Series: "Made in Indonesia: What Does it Mean?"
Apakah yang terpikirkan oleh kita, ketika kita mendengar sebuah istilah—misalnya—‘made in USA?’ Atau ‘made in Japan?’ Banyak yang akan dengan begitu mudahnya menggunakannya sebagai sebuah alat untuk menilai apakah sesuatu itu dapat mereka nilai sebagai sebuah produk berkualitas layak, bahkan untuk menilai kesenian. Bahkan, dalam kehidupan nyata, ini bukanlah sebuah bayangan semu semata.
Tapi bagaimana dengan kata-kata ‘made in Indonesia?’ Nilai apakah yang terkandung dalam kata-kata ini? Apakah kita menganggapnya tidak lebih dari sekedar sebuah istilah ‘manufaktur’? Ataukah kita akan mengenalinya sebagai kebanggaan nasional? Apakah kita sungguh harus memilih? Mari kita diskusikan!
Tapi bagaimana dengan kata-kata ‘made in Indonesia?’ Nilai apakah yang terkandung dalam kata-kata ini? Apakah kita menganggapnya tidak lebih dari sekedar sebuah istilah ‘manufaktur’? Ataukah kita akan mengenalinya sebagai kebanggaan nasional? Apakah kita sungguh harus memilih? Mari kita diskusikan!
mari ngebahas isi acaranya,
di awal acara, meskipun kami telat tapi untungnya ngga kelewatan penampilan dari mbak Eni dengan Guzheng-nya yang sangat asing buat gue.
*fyi gue baru tau how to spell guzheng setelah googling pagi ini. tadinya dikirain 'khu-cheng'
guzheng ini adalah alat musik petik dari Cina, senarnya dari nylon, punya 20 senar dan biasa dikenal orang Indonesia sebagai 'kecapi Cina' ya. seenggaknya itu penjelasan singkat dari mbak Eni :)
dan penampilannya.......................................... KEREN ABIS. kehipnotis deh, dari petikannya, permainan jarinya, cara menghayatinya. wow. speechless.
lanjut ke acara diskusi, disini pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana nilai dari kata 'made in Indonesia' yang ternyata berbeda jauh sama arti 'made in USA'
kalau 'made in USA' diartikan segala regulasi, pembuatan, hak paten desain, pengolahan dan pendistribusian memiliki kekuatan hukum tertentu yang ngga bisa diganggu gugat.
sementara di Indonesia sendiri, 'made in Indonesia' lebih pada teknis bahwa di Indonesia, orang Indonesia lah yang membuat semua produk itu bukannya hak intelektual ; sekedar membuat. kasarnya : "dibayar untuk membuat apa yang disuruh oleh orang luar"
orang Indonesia, sayangnya cenderung ngga mau tau, kurang memiliki kebanggaan dan mengenal kekayaan budayanya sendiri.
karena itu kita jadi seolah ngga punya kebanggaan dibandingkan negara luar, faktanya kualitas barang luar lebih bagus karena mereka punya identitas yang jelas dengan keidentikan kualitas. Simpelnya sih, kita memang kurang cinta sama Indonesia.
*hayo ngaku :p
****nanti dulu yah dilanjutin. mau ada urusan bentar
