Halo Bapak..
Pak, semoga Anda selalu dikaruniai berkah sehat & panjang umur agar selalu diberikan kesempatan untuk menafkahi keluarga tersayang Anda.
Semoga Ramadhan ini rezeki anda dilancarkan dan dibuka pintunya seluas-luasnya.
Semoga Anda selalu dikaruniai kesabaran, keikhlasan, ketabahan, dan hati yang selalu riang ketika berjualan.
Dan meskipun Anda belum memiliki jam tangan, Anda yang selalu ikhlas menjajakan dagangan di malam gelap selepas taraweh. Somehow setiap anda lewat dan menanyakan jam, jarum jam selalu menunjukkan pukul setengah sepuluh tepat.
Kala itu kami sudah terbaring nyaman dan kenyang di depan televisi. Alhamdulillah. Namun ketika mendengar suara ‘tok-tok’ khas dari pikulanmu itu, hati ini ingin teriak rasanya. Terenyuh, mendapati bahwa ini sudah jam setengah sepuluh lewat tapi Anda masih ada di luar menjajakan dagangan.
Sayang sekali, Pak, perut saya sudah penuh. Sungguh ingin rasanya memanggil, supaya sedikit saja bisa meringankan pikulan Bapak.
Suatu ketika pula, ketika saya dan sahabat masih terjaga dan bercanda ria di ruang depan Anda kembali lewat. Tapi ini berbeda dari biasanya, pukul SETENGAH SEBELAS LEWAT.
Ketika itu pula dengan girangnya saya memanggil Bapak, tidak melewatkan kesempatan untuk sedikit ngobrol dengan Anda.
“Sudah jam berapa, neng?” Anda bertanya.
“Jam setengah sebelas lewat, Pak” jawab saya.
Saya benar-benar kaget karena Anda tidak menyadari bahwa ini sudah larut malam. Lalu saya lanjut bertanya seadanya untuk menjawab keingintahuan saya selama ini.
“Rumah Bapak dimana, kok malam sekali Pak”
“Dekat kok, neng. Di belakang asrama situ”
“Kok malem banget pak keluarnya, memang tadi dari rumah jam berapa?”
“Selepas maghrib sih, neng. Tapi kok cepet banget ya udah jam setengah sebelas aja. Pantesan sepi….”
Ada jeda cukup lama dari jawaban terakhirnya, indikasi beliau agak sedih dengan sedikitnya pembeli malam ini.
Ketika saya kembali menawarkan sahabat saya untuk ikut membeli semangkuk bakso, dia tetap menolak dengan alasan sudah kenyang. Padahal saya ingin sekali memberikan bapak ini rejeki agak lebih malam ini, seandainya saja teman saya masih berminat buat makan sambil baca novel.
“Sudah neng, jangan dipaksa kalau ndak mau” Anda hanya berucap singkat dengan sebentuk senyuman tulus…
Pernyataan yang cukup tegar dari Anda.
“Sudah jam berapa, neng?” Anda bertanya.
“Jam setengah sebelas lewat, Pak” jawab saya.
Saya benar-benar kaget karena Anda tidak menyadari bahwa ini sudah larut malam. Lalu saya lanjut bertanya seadanya untuk menjawab keingintahuan saya selama ini.
“Rumah Bapak dimana, kok malam sekali Pak”
“Dekat kok, neng. Di belakang asrama situ”
“Kok malem banget pak keluarnya, memang tadi dari rumah jam berapa?”
“Selepas maghrib sih, neng. Tapi kok cepet banget ya udah jam setengah sebelas aja. Pantesan sepi….”
Ada jeda cukup lama dari jawaban terakhirnya, indikasi beliau agak sedih dengan sedikitnya pembeli malam ini.
Ketika saya kembali menawarkan sahabat saya untuk ikut membeli semangkuk bakso, dia tetap menolak dengan alasan sudah kenyang. Padahal saya ingin sekali memberikan bapak ini rejeki agak lebih malam ini, seandainya saja teman saya masih berminat buat makan sambil baca novel.
“Sudah neng, jangan dipaksa kalau ndak mau” Anda hanya berucap singkat dengan sebentuk senyuman tulus…
Pernyataan yang cukup tegar dari Anda.
Saya bertanya lagi,
“Sampai jam berapa pak mau keliling jualannya?”
“Sampai jam berapa pak mau keliling jualannya?”
“Ya sekuatnya aja neng, kalau ndak kuat ya pulang”
Saya berterima kasih sambil memberikan selembar uang lima ribu, wajahnya tersenyum dan mengucap terima kasih juga.
“Hati-hati, Pak” Ucap saya.
“Terima kasih ya, neng. Misi..” Anda pun berlalu.
Ya, Pak. Keadaan diluar saat itu hening, sepi dan dingin.
Betapa kuat dan bersemangatnya Anda..
Bahkan ketika 2 hari ini adik saya, Salwa meminta jajan semangkuk bakso anda sewaktu mendengar bunyi ‘tok-tok’ saya hanya bisa tersenyum girang di dalam hati. “Alhamdulillah, ini rejekimu, Pak”
Lagi, Anda kembali menanyakan jam berapakah ini.
Senyum ikhlas masih terkembang ketika Anda pamit dengan kepulan asap diatas dandang panas di pikulan Anda.
Rezeki kemarin dari saya, 2 hari ini dari adik saya.
Ingin sekali setiap hari saya membeli dagangan Anda, agar keberkahan ikut tertular namun jelas itu tidak mungkin.
Wahai Bapak penjual bakso cuankie yang baik, semoga pintu rezeki selalu terbuka lebar untuk Bapak. Semoga Bapak selalu dilindungi Tuhan.
Semoga Bapak diberi rezeki untuk membeli jam tangan.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang giat bekerja & tawakal kepadaNya.
Insya allah Ramadhan 1432 H ini penuh berkah, ya Pak..
Insya allah rezeki selalu mengalir entah dari tangan siapapun, ya Pak..
Anda Ayah & Suami yang hebat!
Doakan saya sukses juga ya, Pak.
Doakan saya sukses juga ya, Pak.
Dan malam ini pun, suara ‘tok-tok’ anda kembali terdengar manis.
Yang kuat ya, Pak. Terima kasih pembelajarannya.. :’)
Ramadhan 16th 1432 H
09.42 pm
09.42 pm
Salam,
@ratihwr