Sunday, February 28, 2010

Lembah Baliem





Satu warisan alam yang sungguh mempesona, yang tersimpan di Papua, yaitu Lembah Baliem di Wamena yang dikelilingi gunung bersalju.

Lembah yang didiami suku-suku Dani, Lani dan Jani ini begitu mempesona. Kita bisa melihat berbagai pemandangan menarik atas rumah-rumah asli yang disebut rumah honai.
hunian yang sarat budaya dan sahaja.

Kita bisa melakukan perjalanan berjalan kaki lintas alam langsung ke desa-desa di Lembah Baliem. Untuk itu, kita harus mencapai terlebih dahulu Sogokmo dengan kendaraan umum, jauhnya sekitar 15 kilometer dari Wamena. Dari sini bisa mendaki gunung ke desa-desa Holesi, Seinma, dan Ninia. Jika hendak mendaki pegunungan Jawawijaya, beberapa kilometer dari Sogokmo, kita akan menyeberangi padang rumput dan menyeberangi Sungai Baliem lewat jembatan gantung. Hal ini akan menjadi petualangan tersendiri yang luar biasa.

Area lintas alam lainnya yang sangat menantang adalah melakukan perjalanan menuju Kecamatan Makki atau Kecamatan Perime, kita dapat menuruni lembah-lembah yang dipenuhi kebun sayur dan menikmati desa-desa yang indah. Bila kita memiliki stamina yang prima, bisa naik ke Puncak Trikora atau bahkan Puncak Cartenz.

Juga bisa mengunjungi desa Kurulu yang berjarak sekitar 50 km dari Wamena dan menemukan mumi yang berusia sekitar 350 tahun. Ada dua desa suku Dani lainnya yang juga memiliki mumi, yaitu Aikima dan Pummo.

Berkunjung ke Lembah Baliem, di selatan Kota Wamena telah berdiri hotel di atas bukit bernama Baliem Valley Resort yang didirikan orang Jerman, dimana dari sana pemandangannya amat indah sekali. Sayangnya, tarif hotel itu mungkin tak terjangkau bagi turis domestik karena tinggi sekali secara umum dan juga dalam dollar AS. Tapi tenang saja, hotel dengan tarif wajar cukup banyak kok, di Wamena.

Untuk mencapai lembah yang eksotik ini kita harus mencapai Jayapura terlebih dahulu. Dan untuk mencapai Wamena, ada banyak sekali pilihan penerbangan, seperti Trigana, MAF, AMA, Yajasi, Manunggal Air, atau pesawat Hercules.

Tapi jangan kaget bila di Wamena harga barang masih begitu tinggi, Untuk makan di warung kelas warteg, bisa menghabiskan sekitar Rp 25.000 atau sekitar dua kali lebih mahal daripada Jakarta. Semua harga di Wamena lebih tinggi daripada di tempat lain karena semua barang datang melalui udara. Wamena belum punya hubungan darat dengan tempat lain, termasuk ibu kota Papua, Jayapura.

Jika mengunjungi Lembah Baliem kita bisa membawa oleh-oleh cindera mata dari banyak toko di Wamena yang menjual aneka kapak batu, kalung tradisional, dasi kepala suku, tas noken, sampai tempat air dari labu. Memang penjual barang kerajinan di Wamena umumnya adalah pendatang dari luar pulau.Tetapi jikalau ingin membeli dari penduduk asli,kita bisa mendapatkannya di Desa Kurulu di mana di sana juga ada toko yang menjual cenderamata.

* itu informasi yang gw dapet tentang Lembah Baliem yang eksotis ini..
semoga bisa kesana dalam waktu dekat ya...
amin =D

No comments:

Post a Comment