--semua ini hanyalah pemikiran subjektif penulis—
Seorang gadis yang pintar dalam pelajaran sastra Jerman dan kemampuannya mengkomunikasikan sebuah karya di depan umum. Dengan caranya sendiri.
Aku, secara pribadi, sangat ingin mengulas tentang dia. Bagaimana seorang perempuan yang sangat biasa dan hanya ditempeli sejumput keberuntungan, bisa hidup sedamai dan sebahagia itu.
Mengherankan jika kekayaan, uang dan kekuasaan tidak mempengaruhi semuanya, segala yang dia miliki, senyuman, tawa, dan damai di hidupnya. Teman atau sahabat yang ia miliki, semuannya tentu ada sangkut pautnya dengan siapa dia, apa yang dimilikinya dan apa jabatan orang tuanya. Sampai kadang aku curiga dengan mereka semua. Ya, orang-orang di lingkungannya yang menganggap diri mereka masing- masing sebagai sahabat atau semacamnya. Kupikir mereka sangat naïf jika mereka mau dengan tulus hati berteman dengannya tanpa melihat latar belakang keluarga.
Dewi adalah teman sekelas ku dikala masih di bangku SMP, tidak ada yang mencolok dari dirinya selain label ‘tukang tidur’ yang dia punya. Semua sangat menyayanginya, ya, SEMUA aku bilang.
Tak ada yang istimewa dari perempuan ini,tinggi badannya pendek dengan berat badan yang sedang, rambut pendek sebahu, tidak pernah rapih, kadang dikuncir ala kadarnya, kulit sawo matang dengan bentuk wajah agak kotak dan tidak tergolong cantik,mata,hidung,bibir, semuanya biasa saja untuk ukuran fisiknya.
Tapi lihat apa yang dia pakai sepatu bermerek namun dengan pemakaian yang asal sehingga selalu terlihat lusuh, tas ransel sport bermerek keluaran terbaru, alat tulis yang lengkap serba berkualitas, uang jajan di kantong dan dompetnya yang selalu diletakkan sembarangan tak terurus dengan baik. Sebut saja semua gadget terkini, dia punya, dan tak pernah lupa dibawa ke sekolah.
Ayahnya adalah seorang pejabat eselon yang kaya raya, ibunya pun adalah seorang teller bank ternama yang selalu berpenampilan cerdas dan berwibawa.
Dewi tidak punya pesona, satu-satunya yang ia miliki hanyalah kepolosan. Dan mungkin memang itulah daya tariknya.
Anak ini, jika terlahir dalam keluarga miskin dan tidak berpendidikan tentunya tidak akan seperti sekarang.
Aku berani bertaruh, jika orang tua Dewi bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa, orang-orang yang beranggapan bahwa mereka adalah sahabat terbaiknya tidak akan sudi dekat-dekat dengannya.
Karena Dewi tidak punya apa-apa.
Karena Dewi bukan apa-apa tanpa harta dibelakangnya.
Sungguh picik orang-orang dibalik pertemanan yang dianggap sakral itu.
Mereka tidak murni menyukai Dewi yang apa adanya dan kepolosan serta kebaikan hatinya itu.
Mereka pikir, dengan harta segalanya akan sangat mudah dan menyenangkan.
Ok mereka tidak salah, Dewi tidak sepatutnya berbahagia tanpa adanya orang-orang tadi dan harta kekayaannya.
Dewi sebenarnya bukan apa-apa tanpa tempelan sejumput keberuntungan…….
No comments:
Post a Comment