Tuesday, November 2, 2010

10.11 pm



Barusan, sekitar 10 menit yang lalu ada sebuah teriakan khas seorang pedagang keliling. saya hampir ngga percaya kalo masih ada aja pedagang keliling yang ngider jam segini.
ngelirik jam tangan, pukul 10.11 pm.

Ya, suara khasnya membuat saya yang sedang asyik di depan komputer segera mengintip dari balik gorden. ternyata benar. dia adalah seorang penjaja tahu sumedang bersepeda motor.
masih alhamdulillah ia bukannya pedagang makanan keliling yang dipikul, betapa beratnya jadi seorang pedagang makanan keliling (apalagi yang dipikul seperti itu) padahal ini bukan lagi waktunya ia bekerja. seharusnya ia sudah berkumpul dirumah bersama keluarganya.


kenapa?
seorang pedagang makanan keliling biasanya target terbesar penghasilan setiap harinya didapat dari anak-anak. Dan surga bagi mereka adalah sekolah-sekolah yang tiap hari mereka lewati 'sambil' jalan. sejak pagi sudah duduk manis menggelar lapaknya atau sekedar menunggu dihampiri anak-anak di sebelah gerobaknya. siklus berjalan setiap harinya dengan ritme yang sama. pagi datang, menjelang siang beranjak pulang.
jika hari menjelang petang, sekolah pun bubar tapi dagangan belum juga habis, laku terjual. mereka harus terus berkeliling dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan yang lainnya.
tapi kebanyakan dilakukan sejak siang hari ketika pelanggannya mulai sepi dan minim harapan untuk bertahan sampai sore.
beberapa yang beruntung, dagangannya habis menjelang petang. beberapa yang kurang beruntung, harus berjalan lebih jauh berlawanan arah rumahnya untuk menghabiskan barang dagangan hari ini. yang jadi masalah adalah, jika dagangan tidak habis hari ini, lalu apa yang akan dipakai untuk modal besok berjualan di pagi hari?


disaat petang masih kuat berkeliling menjajakan dagangan, bahkan sampai malam mulai larut.
tiada peluh tiada penat, yang ada hanya niat tulus menafkahi keluarganya dengan rezeki halal hasil perasan keringatnya sendiri.
belum lagi masalah yang terjadi di jalanan, ya ban gerobak/sepeda/motor bocor lah, kempes. gerobak terguling, ngga sengaja diseruduk motor, dagangan tumpah, dipalak preman komplek, diusir, hujan, panas, mata merah karena debu, asap, dan masih banyak segelintir masalah yang bisa saja terjadi di jalanan.


padahal di rumah, si istri dan anak-anak yang masih kecil & belum teralu mengerti ikut berdoa tanpa henti berharap cemas kedatangan suaminya. semoga jangan pulang terlalu malam, semoga dalam keadaan sehat dan baik-baik saja dan semoga membawa rezeki hari ini.

itulah perjuangan seorang ayah sang pedagang keliling, yang bermodalkan dagangan, gerobak/kendaraan, niat tulus dan harapan ridho lillahita'ala.





semoga pak pedagang tahu sumedang yang tadi lewat dagangannya cepat habis, dan cepat pulang berkumpul bersama keluarganya. semoga beliau ataupun semua pedagang makanan keliling lainnya juga ayah-ayah hebat lain diluar sana tetap ikhlas menjalani tugasnya untuk menafkahi keluarga.
semoga, keikhlasan tersebut berbuah pahala.

amin ya Rabb..



~ketika saya bisa bercerita seperti ini, ada sebuah pengalaman dibaliknya. pengalaman menjadi anak seorang pedagang es potong keliling yang bermodalkan sepeda onthel biru dan setelan kemeja rapi kantoran.
ya, saya pernah merasakan suka dukanya menjadi anak seorang pedagang es potong keliling, memang itu bukan kemauan kami. tapi toh, pekerjaan apapun yang penting halal dan bisa mencukupi kami sekeluarga makan adalah suatu pembelajaran yang berharga.
well.. alhamdulillah papah hanya sekitar 1-2 bulan berdagang es potong keliling sebelum akhirnya kembali mendapatkan pekerjaan seperti sebelumnya.
subhanallah..
Allah mendengar doa kami.



manusia PASTI mampu jika dia mau berusaha keras.
jika telah berusaha namun belum menghasilkan sesuatu, biarkanlah Dia Yang Maha Besar yang melanjutkan tugasnya. Mengatur apa yang terbaik bagi hambaNya. ikhlas dan tawakal itu tugas kita.

No comments:

Post a Comment