Sunday, January 2, 2011

"Paku dan Luka Perasaan"

menemukan ini kemarin di FB seseorang, 


ouch! dalem...




sepertinya orang emosian seperti saya harus baca ini dan harus mulai bisa mengontrol emosi dan amarah. hehehe




untuk kasus diri saya sendiri, harus mengurangi nada kasar dan emosi ke orang tua dan ade2 sendiri sih.. semoga bisa. dan harus bisa.






well..
saya memang bukan orang baik, tapi saya MAU berubah jadi lebih baik lagi.


enjoy............. :))
semoga bermanfaat.....






copy dari FB Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=481348612443&set=a.53765742443.67897.601337443






Suatu ketika, ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Untuk mengurangi kebiasaan marah sang anak, ayahnya memberikan sekantong paku dan mengatakan pada anak itu untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah ...... 

Hari pertama anak itu telah memakukan 48 paku ke pagar setiap kali dia marah lalu secara bertahap jumlah itu berkurang. Dia mendapati bahwa ternyata lebih mudah menahan amarahnya daripada memakukan paku ke pagar. Akhirnya tibalah hari dimana anak tersebut merasa sama sekali bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabarannya. Dia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang kemudian mengusulkan agar dia mencabut satu paku untuk setiap hari dimana dia tidak marah. 

Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya memberitahu ayahnya bahwa semua paku telah tercabut olehnya. Lalu sang ayah menuntun anaknya ke pagar. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-lubang di pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. “Ketika kamu mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini ... di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu .. Tetapi tidak peduli beberapa kali kamu minta maaf, luka itu akan tetap ada ... dan luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik" kata sang ayah sambil memandang wajah anaknya.




No comments:

Post a Comment