June 4th 2011
#rewrite
Randomly get some news from twitter about the event, then here I am!
Lucunya, ternyata gue ngga bawa pulpen atau alat untuk menulis apapun. gue cuma membawa notebook dan handphone. akhirnya dengan berat hati, inti-inti pembicaraan di seminar ini dirangkum hanya dengan kalimat yang terbatas dan disimpan di draft handphone esia saya.. hahaha, how pity I am.
Acara sebenernya mulai sejak jam 4 sore, tapi karena hari itu gue ke Gandaria dulu jadilah telat lumayan lama, jam 4. 42 pm baru sampe di Alun-Alun Indonesia. ngga papa deh, yang penting niatnya mau belajar.. :)
Kapan lagi coba nemu seminar gratis dengan pembicara arsitek & desainer dari luar.
Makanya kesempatan ini gue manfaatkan semaksimal mungkin. Jangan sampe kelewatan lah, hehe.
Speaker seminar ini ada 2 orang, yaitu Niki Nasr seorang desainer produk furniture Tipota yang sepertinya memanfaatkan bahan-bahan tertentu dan memakai jasa pekerja-pekerja di Jepara *sekaligus workshopnya
Kerennya adalah, dia ini orang luar asal Denmark tapi punya background pendidikan Antropologi sosial yang berani maju jadi desainer produk furnitur yang tentunya keren banget dan memilih kerajinan + orang Jepara sebagai partner kerjanya. Produk beliau sudah mendunia, tapi concern nya pada kerajinan Jepara sangat terlihat jelas. Cool!
Dia suka mendesain furnitur seperti kursi-kursi, meja, sofa dll dengan bahan Kayu dan yang dipilih untuk kebutuhannya itu kayu jati, mahoni, akasia, sungkai, mindi, dan tentunya kayu impor dari Perancis, kayu oak. Gaya - gaya desainnya sederhana, klasik, namun tak terbatas atau tak lekang oleh waktu, khas Skandinavian Furniture!
Sayangnya karena telat gue agak melewatkan beberapa part presentasinya, salah satu yang masih terekam adalah bagaimana cara beliau membuat/mendesain kursi baru dengan berbagai ide yang kayaknya ngga pernah putus untuk terus hadir di otaknya.
Dia bilang, proses desain furnitur itu sebenarnya adalah proses merekam kenangan/ingatan lama tentang apa yang pernah kita lalui, rasakan, dan pengalaman lainnya, buruk atau indah.
Proses, berkaitan erat sama sejarah sesuatu. bagaimana sesuatu terjadi dan segalanya yang pernah terekam disana, pengetahuan lama, intensitas kita mengingat, memotivasi diri dan juga ingatan jangka panjang.
Dia juga bilang, kalo dia ngga bisa membuat kursi tanpa merepresentasikan kursi-kursi jaman lalu, jaman 50an, 70an, 90an. Caranya sesimpel, merepetisi gaya lama, meng-copy, pengetahuan di masa lalu tentang teknisnya, sejarah & material. Ditambah sentuhan-sentuhan masa kini yang dibuat sedemikian rupa menjadi sebuah 'signature style' dirinya sendiri yang tentunya tetap sederhana, minimalis, klasik dan elegan khas Skandinavian yang sering kita lihat di brosur-brosur Ikea itu loh.
:D
And btw, dia juga mengadakan pameran furnitur karyanya, ada kursi santai dari kulit sapi berbulu hitam putih yang nyaman banget (boleh didudukin/coba) bentuknya mirip kursi sutradara gitu, kursi dari anyaman rotan, kursi perpaduan dari anyaman tali 90% dan kayu jati solid sebagai rangkanya, kursi kayu oak & coffee table, dll.
Lanjut ada presentasi dari Rafael Gomez Moriana *sayangnya gue masih belum bisa menemukan website pribdinya dan cuma menemukan artikelserupa dengan apa yang mau gue bahas disini.
Rafael sendiri bukanlah seorang desainer furnitur tapi beliau adalah arsitek asal Barcelona yang menjadi speaker kedua setelah Niki Nasr.
Dia banyak bercerita tentang hubungan antara furnitur dengan arsitektur.
Menurut dia sendiri, hubungannya ada 4 aspek :
- Human Scale
- Materiality
- Simplicity
- Practicality
Yang intinya, sebuah komposisi furnitur itu membuat sebuah rumah menjadi sebuah hunian yang nyaman untuk ditinggali penghuninya.
Contoh yang dikasih, semisal ada sebuah rumah dengan dinding tinggi, gelap, minim ventilasi dan seolah seperti penjara atau benteng, ketika kita menaruh sebuah sofa di dalam ruangan tadi maka hunian yang memiliki 'rasa' nyaman dan tentram tercipta dengan sendirinya. Berbeda jika kita ngga menaruh kursi apapun disitu.
Banyak contoh yang dia sajikan, ada Mecanoo, Van den Broek, Caja Granada, Werkbund Exhibition & yang pasti udah banyak dikenal adalah SANAA installation di sebuah pameran di Barcelona.
SANAA yang sering melahirkan desain - desain yang simpel tapi keren ini *contohnya Rabbit chair ini
beberapa built in furniture karya desainer lainnya, drawers (laci) yang disulap menjadi multifungsi dengan desain yang bertumpuk-tumpuk quirky tapi keren!
Spiral Space dari Adrian Blackwell, Curro Claret yang membuat shelter khusus tunawisma yang sebenernya adalah bangku gereja (pew) seperti yang terlihat disini dan masih banyak lagi lainnya.
Intinya, disini kebudayaan kita harus lebih digali lagi, semakin kreatif untuk memanfaatkan kekayaan alam yang ada, dan jangan lupa kita sebagai mahasiswa arsitektur vernakular, kekayaan sejarah, pengetahuan inti arsitektur *apa aja intinya? kalimat ini masih rancu deh ya.. data-data heritage harus lebih sering didokumentasikan secara tertata, rapi, apik, dipatenkan untuk bekal di masa depan.
"Ketika di tangan orang asing hasil kerajinan bisa menjadi indah seperti ini, tentu ini menjadi tantangan bagi desainer Indonesia untuk lebih maju. Jangan mau kalah karena ini adalah kekuatan kita! " Moderator di akhir acara.
really glad that I could attending the event! :D
No comments:
Post a Comment