Kritik Naratif Metode Ukuran
Terlintas tentang ‘nilai’ suatu ruang ditimbang dengan ‘nilai’ benda/ aktivitas yang dilingkupinya, soal ‘kepantasan’. Cara pandang tersebut rasanya cukup relevan dilontarkan kembali pada saat-saat kita merasakan suatu pergeseran ‘nilai’ pada saat kita merancang. Bahwa saat ini membuat ruang tidaklah semudah dan semurah dulu, membuat kita berpikir: benda dan aktivitas macam apa yang ‘pantas’ dilingkup oleh pembatas ruang dan dikondisikan dengan usaha-usaha perancangan, perencanaan, konstruksi, dan perawatan?
Bila kita amati, rumah-rumah (landed house) mewah di Singapura kebanyakan hanya menyisakan carport atau canopy secukupnya bagi mobil-mobil sport pemiliknya, dan kita tahu bahwa biaya memiliki dan menggunakan kendaraan di Singapura selangit.
Untuk mempertahankan sebuah kendaraan lebih dari 10 tahun, pajak yang dikenakan berlipat, jauh melebihi harga kendaraan yang kian susut. Maka dari itu menarik untuk ditelaah: apakah membuat garasi permanen seperti yang lazim di Amerika Serikat atau Indonesia menjadi sangat tidak feasible di Singapura?
Coba kita lihat di Jakarta, di mana orang masih merasa wajib untuk mendedikasikan 18 atau 36 meter persegi dari bangunan dan lahannya ‘hanya’ untuk dijadikan parkir. Bahkan untuk mobil bobrok dan tidak baru sekalipun. Saya jadi berhitung dan berandai-andai: berapa biaya konstruksi dan perawatan yang dibutuhkan untuk melindungi mesin dan cangkang kendaraan yang setiap hari menyusut deras, sementara harga tanah senantiasa merambat/ melonjak naik? Alasan klasik orang dalam mempertahankan keberadaan garasi di rumah tinggal adalah alasan keamanan. Namun alasan itu pula yang menjadikannya, bagi saya, sangat tidak masuk akal terlebih apabila hingga mengorbankan kualitas rancangan rumahnya sendiri. Misalnya: keberadaan garasi menyebabkan rumah menjadi setinggi 3-4 lantai, atau membutuhkan basement yang jelas-jelas mahal. Produk asuransi all-risk untuk kendaraan bermotor juga sudah lazim, dan produk asuransi itu juga masih sangat pantas mengingat resiko di jalan raya Indonesia cukup tinggi, saya pikir seharusnya cukup alasan untuk ‘membiarkan’ kendaraan kita berhujan-angin di luar bangunan, toh dalam beberapa tahun harganya sudah separuh dari harga beli dan mesinnya sudah banyak yang harus diganti.
Di Indonesia di luar berbagai alasan ‘keamanan’ dan ‘perlindungan’, sehingga kita bisa kembali menimbang ‘nilai’ sebuah wadah dengan ‘nilai’ dari isi yang diwadahinya. Penting kacangnya atau kulitnya?
So, what do you think, guys?
No comments:
Post a Comment