Tuesday, November 24, 2009

lanjutan mentawai..... ^^

Konstruksi Uma Mentawai



Bagian-bagian rumah dari depan sampai belakang :

Serambi depan, di depan tempat masuk yang sebenarnya

Ruang dalam pertama, di bawah atap

http://books.google.co.id/books?id=Tnw3Bcrkpo0C&pg=PA36&img=1&zoom=3&hl=id&sig=ACfU3U3NGbg6vJt2KoAlk_HXZlwS9wsPyg&w=397 Ruang dalam ke dua, di bawah atap

Panggung, di belakang samping panggung

Gambar denah uma



Kerangka bangunan terdiri dari lima perangkat konstruksi yang terdiri dari tonggak – tonggak, balok – balok, serta tiang penopang atap. Kelima konstruksi dibangun berjejer melintang kebelakang dan saling dihubungkan dengan balok – balok memanjang.

Ruangan yang terletak diantara dua perangkat konstruksi melintang dinamakan ruang.

Uma orang sakudei disebut juga uma empat ruang, yaitu uma yang lebih besar dengan sendirinya lebih besr pula jumlah ruangannya

http://books.google.co.id/books?id=Tnw3Bcrkpo0C&pg=PA40&img=1&zoom=3&hl=id&sig=ACfU3U2j-F5sEaQHC07NXR-4EBPpXazrKw&w=397

(gambar 27), disisi kanan dan kiri ketiga peringkat konstruksi melintang yang pertama memiliki :

1. Arigi, masing – masing sepasang tonggak

2. Baibai, tonggak itu menopang sebatang balok yang melintang

3. Sileu, pada pertengahan balok terpasang sebuah tiang kembali

4. Parabubungan, yang menopang balok bubungan

5. Sirio’ nia, di bawah balok melintang terdapat bagian tengah yang agak lebar dan tidak dirintangi tiang, sedangkan pada kedua perangkat konstruksi melintang yang paling belakang (28), tiang penopang balok bubungan memanjang sampai ke tanah. Sehingga terpasang dinding depan dan belakang dari ruang dalam kedua, dan bagian belakangnya tertutup sama sekali.

6. Siegge’ legeu

7. Peletteget

8. Bujuk

9. Tumandei

10. Tabu

11. Popo

12. Kamanen

13. Paboubou

14. Kamanen

15. Tugdag



Di muka tempat masuk yang sebenarnya. Disini terdapat batu pengasah kapak dan pisau, dan ditaruh bumbung bambu yang besar untuk dipakai para wanita dan anak- anak untuk mengambil air dari anak sungai yang dekat dengan rumah. Sedangkan para pria memakai tempat ini pada siang hari yang pengap dan bercuaca mendung untuk mengurus perkakas.

Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai batas satu meter sedangkan di tempat masuk satu setengah meter dari lantai.

Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang seringkali dihiasi ukiran atau gambar (tangga).Ruangan dibawahnya terbuka, dan sisi kanan dan kirinya bagian pertama dari rumah yang berada dibawah naungan atap tidak berdinding, yang biasa disebut dengan serambi depan atau kagareat dengan panjang lima meter.

Diantara tiang-tiang dipasang bangku-bangku disebelah kiri dan kanannya.

Beranda depan difungsikan untuk berkumpul, mengobrol dan menerima tamu.

Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu, ruangan yang dimaksud berwujud seperti bangsal yang panjang dan gelap dengan dinding papan yang menutupi sisi samping dan belakangnya. Kecuali lewat lubang pintu tingkap, kadang cahaya diperoleh lewat celah yang terjadi dengan jalan melepaskan salah satu papan dinding, dengan cara seperti ini jg dapat dipergunakan untuk masuk ke bilik-bilik samping (jairabba) yang berada di bawah bagian samping atap, dengan lantai panggung tersendiri. Pada panggung seperti ini ditaruh tuddukat, yaitu perangkat keuntungan ynag terdiri dari empat batang kayu yang dilubangi dengan cara membuat celah dan dengan panjang satu setengah sampai tiga meter.

Pertengahan rumah, terdapat konstruksi balok yang melintang. Dilantai sebelah de[pannya ada perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah, berfungsi sebagai tempat memasak seluruh kelompok saat perayaan. Perapian terbuat dari tanah yang dipadatkan dalam segi empat yang dibentuk oleh balok-balok yang saling dihubungkan dalam sistem pasak.

Lantai digunakan pula untuk menari (puturukat). Yang letaknya dilorong tengah, antara perapian dan dinding belakang bangsal dan terbuat dari papan yang lebar serta diserut sampai halus sehingga tidak kesat lagi permukaannya, juga bahkan dapat menghasilkan instrumen musik pula.

kesimpulannya, arsitektur tradisional uma mentawai adalah arsitektur murni yang masih sangat primitif dan sangat jauh tersentuh dari perkembangan di masa kini.

sebagai keuntungan, suku mereka memiliki kepekaan besar terhadap penggunaan bahan yang alami dan kesadaran mereka atas lingkungan sekitar yang 'menghidupi' mereka. sehingga apa yang ada dalam arsitektural suku mentawai, benar-benar alamiah dan murni. kita dapat mempelajari bahwa keterbatasab bukan sebuah alasan, alam kita luas dan menyimpan jutaan pesona dan manfaat...

arsitektur mentawai seharusnya akan tetap lestari hingga anak cucu kita nanti..... sehingga mereka bisa mengetahui kebesaran pemikiran suku pedalaman seperti suku mentawai. dan bisa mengaplikasikan dalam sebuah kesederhanaan desain yang memiliki sejuta daya tarik. ^^

No comments:

Post a Comment