Monday, November 23, 2009

Perkembangan Arsitektur2


RUMAH TRADISIONAL MENTAWAI

terdiri dari 3 jenis,

Lalep : rumah individual yang didirikan oleh lelaki kepala rumah tangga bila uma orang tuanya penuh.

Rusuk : rumah tinggal sementara dari pasangan muda.

Uma : rumah komunal yang didiami oleh beberapa keluarga dalam satu suku

Uma terbuat dari kayu kokoh dan berbentuk rumah panggung yang di bawahnya digunakan sebagai tempat memelihara babi.

Berikut detail pembahasan Uma Mentawai,

1. Denah



Luas rumah persatuan kepala keluarga dengan rata-rata pnjang = 31 m, lebar = 10 m, dan tinggi = 7 m. Pembagian ruangannya cukup sederhana, di bagian depan adalah serambi terbuka yang merupakan tempat untuk menerima tamu. Sedang pada bagian dalam digunakan untuk ruang tidur keluarga. Di ruangan ini terdapat pula perapian yang digunakan untuk memasak suatu keadaan yang wajar mengingat kegiatan siang hari bagi laki-laki dihabiskan di ladang atau di hutan, sementara istrinya bertugas di kebun halaman dan memasak.

Bangunan uma ini terdiri atas dua bagian ruangan besar. Di depan ada beranda yang luas tanpa dinding yang berfungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga berkumpul dan bercakap-cakap pada malam hari. Di belakangnya, ruangan yang berdinding menjadi ruang tidur dan dapur, tanpa sekat.

Denah rumah adat Mentawai (rumah pangung) terbagi mejadi :

- Teras (terletak didepan)

- Serambi depan

- Ruang dalam pertama

- Ruang dalam kedua

- Teras (terletak disamping)

Pembagian ruang dapat dikategorikan secara vertikal dan horizontal, seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pembagian ruang ini sebagai respon terhadap sistem sosial kekerabatan, kosmologi dan kondisi alam sekitar.

- Kerangka bangunan, terdiri dari lima perangkat konstruksi dari tonggak-tonggak, balok-balok, dan tiang-tiang penopang atap. Kerangka bangunan ini dibangun berjejer melintang ke belakang dan saling berhubungan dengan balok memanjang.

- Beranda, merupakan tempat berkumpul, mengobrol, dan menerima tamu. Di malam hari tempat ini dipakai untuk bercerita atau bercakap-cakap tentang kejadian sehari-hari, serta di gunakan sebagai ruang tidur bagi para pria, dengan beralaskan tikar yang terbuat dari tangkai-tangkai daun rumbia yang dijahitkan berdempet-dempet dan dibentangkan kelambu-kelambu.

- Ruang dalam pertama, cahaya diperoleh lewat lubang pintu atau dengan dilepaskannya salah satu papan dinding. Disisni terdapat ruangan yang berwujud bangsal panjang dan gelap dengan dinding kurang lebih setinggi orang yang menutupi sisi samping dan belakang.

- Pertengahan rumah, terdapat perangkat konstruksi balok melintang ke tiga. Dilantai sebelah depannya terdapat perapian yang lebarnya mengisi seluruh lorong tengah tempat masuk pada waktu perayaan. Disisi kanan perangkat konstruksi balok melintang ketiga ini, tempat untuk menggantungkan bejana-bejana sajian untuk upacara memohon keberhasilan dalam berburu.

- Di lorong tengah, anatara perapian dan dinding belakang bangsal, lantainya terbuat dari papan lebar yang diserut sampai halus, yang merupakan tempat untuk menari.

Pondasi

Pondasi rumah terbuat dari batu karang. Batu karang terbukti cocok untuk menjadi pondasi.
Selain itu, batu kali langka di Mentawai, sehingga batu karang menjadi pilihan utama.

Kolom

Tiang-tiang utama (uggla) misalnya, selalu dipilih pohon uggla yang sudah tua. Dua batang pohon, setara 7m3 sampai 9m3 kayu, untuk mendirikan Uma sebesar 7m x 22m dengan 10 buah uggla. Material uggla berupa kayu arriribuk (Oncosperma horridum, merupakan salah satu marga dari suku pinang-pinangan (Arecaceae))

Kolom pada Uma dibuat tidak sama panjang untuk menanggulangi keadaan kontur tanah yang tidak rata.

Atap

Atap Uma disebut tobat, yang dipilih dari daun sagu yang tua dan disusun rapat.
Karena itulah Uma sanggup bertahan selama puluhan tahun. Atap uma baru diganti setelah lebih 20 tahun. Sebuah uma masih bisa dipakai setelah 2 atau 3 kali ganti tobat.

Dinding

Sisi depan rumah ditutup dengan dinding atap rumbia yang terbentang kebawah sampai batas 1 m (ditengah (tempat masuk) 1,5 m) dari lantai

Dinding sebelah dalam diatas tempat masuk diperkokoh dengan selembar papan yang dihiasi gambar (tagga) atau ukiran, sedangkan ruangan dibawahnya dan sisi kanan dan kirinya tidak berdinding, yang disebut serambi depan

Lantai

Lantai beranda dari papan, sedangkan lantai ruangan tidur dan dapur dari belahan kayu pohon kelapa yang dipasang jarang-jarang sehingga hampir sepanjang malam penghuni rumah tidak tidur mendengar suara babi yang amat berisik di bawah kolong rumah.

Namun lantai yang jarang itu juga menyelesaikan masalah sampah rumah tangga. Saat memasak, potongan sayur, kulit kentang, dan sisa makanan tinggal dibuang ke sela lantai dan langsung disambar oleh babi-babi di bawah sana.

Pintu

Berukuran cukup besar dan terbuka lebar dan juga tidak memiliki daun pintu.

Jendela

Setelah masyarakat Siberut mulai mengenal dapur untuk kegiatan memasak, Uma mulai dipasangi jendela sehingga ventilasi menjadi lebih baik

Tangga

Tangga terbuat dari batang pohon, yang tiap ± 15 cm diberi takuk-takuk dengan bertahap kapak untuk tempat berjalan.terbuat dari kayu Sagu.

Ornamen/ragam hias

Pola-pola ornamen atau dekorasi rumah Mentawai, sangat dipengaruhi oleh pengaruh India wujudnya berupa bentukan sulur-sulur yang bentuk tumbuh-tumbuhannya dengan dedaunan dan bunga-bungaan

1 comment:

  1. bingung... sampe salah judul,
    yang sebelumnya tuh perkembangan arsitektur juga hehehehehhe

    ReplyDelete