Tuesday, March 23, 2010

Sebatas mimpi..

Entahlah orang yang gw maksud disini akan membaca tulisan gw yang sekarang atau ngga, yang jelas yang akan gw ceritakan adalah kejujuran yang gw ingin beri tahukan tanpa berusaha memaksa siapapun untuk melakukan sesuatu hal.
Believe me, I’m here just want to see your cheering faces. Just like you do every single day..
Keep spirit!
Keep on your passionate thing.
I always support you in a positive way.

Jika teman saya, Deborah Novia Maharani, pernah berkata seperti ini, tepatnya dalam sebuah pesan singkat yang masuk ke kotak masuk handphone saya.

“ sehebat itukah anda hingga logika saya terdiam dan hati menangkan pertarungan ? Inilah alasan kenapa saya biarkan logika selalu kendalikan hati. Karena saya lemah. Sangat lemah tanpanya.”

lalu saya bisa berkata apa ?
Kami. Perempuan memang sangat rapuh dan lemah menghadapi perasaan cinta.
Bisa begitu sulitnya mematahkan ego dan emosi sesaat.

Ah…….

Ada apa ini.
Saya bukan ingin terlarut dalam romansa percintaan.
Saya hanya ingin berkata penuh kejujuran.




Ini analogi.
Tapi sayangnya ini bukanlah fiksi.

Sudut pandang kedua pihak dengan sedikit scenario yang berloncatan di otak saya.


Sebuah sendok bertemu dengan sebuah garpu yang begitu bersemangat dan penuh energy positif yang terlihat menyebar secara radiatif ke seluruh benda perak lain yang ada di sekelilingnya. Membuat sendok berkaca, menuntut refleksi dirinya agar dapat mencontoh sang garpu yang begitu menikmati kebersyukuran yang ia rasakan.
Sendok tau, sang garpu yang selalu terlihat sendiri dan memancarkan raut kesepian di matanya membutuhkan sosok yang bisa menjadi lebih dari sekedar pasangan sebuah garpu yang akan memberikan manfaat besar ketika disatukan dalam sebuah sajian. Bukan sebagai ‘pelengkap’ saja, namun bersama-sama menjalani kewajiban mereka.
*sekali lagi, ini adalah sebuah analogi.

Jika seandainya Tuhan menciptakan tiap-tiap benda tanpa kegunaan, bahkan tanpa pasangan. Mungkin kebersamaan aktivitas yang tercipta pada akhirnya, bukanlah sebuah rima yang imbang.

Begitulah,

Garpu yang di sorot matanya hanyalah tinggal sebuah kekosongan. Keterpurukan mewabah dalam diri sendok dan mengisyaratkan bahwa ia ingin keluar dan teriak lebih keras.
Ah..
Seandainya saja Tuhan bisa mengartikan apa yang terjadi.
Mungkin yang terlihat sekarang tidak akan sesulit ini.

Jauh di dalam hati sang sendok, ia berkata,
“Begitu sulitnya kah mengerti dan memahami apa yang diinginkan dan apa yang tak diinginkan? “

To be continued…..

No comments:

Post a Comment